Prasarana pelabuhan perikanan sangat penting keberadaannya dalam menunjang aktivitas pendaratan hasil tangkapan. Sebagai pelabuhan perikanan dengan tipe D, PPI Pontap minimal telah mempunyai fasilitas untuk pendaratan dan pembongkaran hasil tangkapan berupa darmaga dan kolam pelabuhan. Sejalan dengan semakin banyaknya aktivitas di PPI Pontap, fasiltas yang disediakanpun semakin banyak, diantaranya (DKP Kota Palopo, 2009) :
1.Fasilitas Pokok
a) Pemecah Gelombang/ Breakwater
PPI Pontap tidak memiliki pemecah gelombang/breakwater karenaPPI Pontap berada di perairan teluk dimana gelombangnya tidak terlalu besar sehingga pembuatan breakwater tidak terlalu diperlukan.
b) Dermaga
Dermaga merupakan fasilitas yang digunakan sebagai tempat mendaratkan hasil tangkapan nelayan sekaligus sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan. PPI Pontap memiliki 2 buah dermaga yaitu dermaga beton dan dermaga besar dengan masing-masing luas 260 m² dan 150 m². Hingga saat ini dermaga tersebut dalam kondisi baik.
c) Kolam Pelabuhan
Kolam pelabuhan PPI Pontap terbilang cukup luas untuk mendukung aktivitas kapal-kapal yang ada di Kota Palopo. Terdapat kendala saat air surut, sehingga beberapa kapal tidak dapat bersandar di darmaga.
d) Jalan
Akses menuju PPI Pontap hanya dapat dilalui dengan satu jalan. Namun setelah masuk ke area PPI, terdapat dua jalan yang dapat ditempuh agar lalulintas di dalam PPI berjalan lancar.
e) Lahan Pelabuhan
Di dalam areal PPI Pontap masih terdapat lahan yang kosong yang memungkinkan pembangunan fasilitas yang baru.
2. Fasilitas Fungsional
a) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Kantor Administrasi
Tempat pelelangan ikan (TPI) dan kantor administrasi PPI Pontap dibangun menyambung satu sama lain dengan luas 400 m² (Gambar 2). Hingga saat ini kondisi fasilitas ini cukup baik. Kegiatan pelelangan ikan yang belum pernah terjadi menyebabkan sarana ini tidak termanfaatkan sebagaimana mestinya. Tidak adanya pelelangan ikan dan pengelola pelelangan ikan menyebabkan kantor administrasi di TPI ini sementara waktu digunakan sebagai kantor polisi air untuk kegiatan pengawasan, perlindungan dan pegendalian perairan umum dan laut di Kota Palopo.
b) Bak dan Menara Air Bersih
Terdapat 1 unit bak dan menara air bersih dengan volume 60 m³ (Gambar 3). fasilitas ini dalam kondisi baik namun kapasitasnya belum mencukupi untuk seluruh kegiatan di PPI Pontap. Akibat tidak cukupnya air bersih, beberapa kegiatan seperti pembersihan TPI dan pelataran tempat pemasaran hasil tangkapan menggunakan air laut dari kolam pelabuhan. Selain itu, karena kurangnya pasokan air tawar bersih ini, kebutuhan air tawar untuk melaut didapatkan dengan membeli di kantin atau kios nelayan.
c) Pabrik Es
Pabrik es di PPI Pontap memproduksi dua macam es, yaitu es balok dan es curah dengan volume 2.500 m³ (Gambar 3). Fasilitas ini merupakan fasilitas yang paling berguna bagi nelayan dan pedagang di PPI Pontap, namun volume produksi es di pabrik es ini terkadang masih belum mencukupi. Hal ini terbukti dari masih banyaknya nelayan dan pedagang yang membeli es dari luar PPI Pontap.
d) Cilling Room
Operasi penangkapan yang bersifat one day fishing membuat hasil tangkapan nelayan tidak terlalu banyak sehingga hasil tangkapan nelayan seringkali habis terjual dalam satu kali pemasaran setelah hasil tangkapan didaratkan di PPI. Hal ini mengakibatkan fasilitas cilling room dengan luas 42 m² ini menjadi tidak terfungsikan.
e) Listrik
Terdapat 1 unit jaringan listrik di dalam kompleks PPI Pontap. Kegiatan yang paling aktif di PPI Pontap adalah kegiatan pendaratan hasil tangkapan yang belangsung pada pagi dan sore hari serta kegiatan pemasaran hasil tangkapan yang berlangsung di pelataran depan TPI dan di dalam TPI pada pagi hari sejak pukul 06.00 WITA sampai 09.00 WITA. Oleh karena aktivitas di PPI Pontap sebagian besar berjalan pada pagi hingga sore hari, maka kebutuhan akan listrik tidak begitu besar dan hingga saat ini kebutuhan akan listrik di PPI Pontap masih dapat terpenuhi.
f) Bengkel Kapal/ Dock
Bengkel kapal/ dock adalah fasilitas yang digunakan untuk memelihara dan memperbaiki kapal. Luas fasilitas ini yaitu 117 m². meskipun fasilitas ini telah dibangun, namun sampai sekarang fasilitas ini belum dapat berfungsi karena belum dilengkapi dengan berbagai peralatan perbaikan dan perawatan kapal.
g) Pangkalan Bahan Bakar Minyak (BBM)
Kios bahan bakar minyak (BBM) memiliki volume 50 m³ (Gambar 5) dan di depan kios BBM ini terdapat tangki BBM dengan volume 51 m³. Fasilitas ini juga merupakan fasilitas yang sangat penting bagi nelayan, namun belum dapat menyediakan BBM secara kontinu.
h) Fasilitas Perbaikan Jaring
Terdapat fasilitas perbaikan jaring dengan luas 100 m². Fasilitas ini sangat berfungsi namun kapasitasnya masih kurang jika dibandingkan dengan banyaknya nelayan yang beraktivitas di PPI Pontap. i) Gedung Pengolahan Ikan
Terdapat 1 unit gedung pengolahan ikan di PPI Pontap, namun oleh karena produksi yang masih kurang dan belum ada yang memiliki keterampilan mengolah ikan maka fasilitas ini jadi tidak berfungsi.
3. Fasilitas Penunjang
a) Kios Nelayan
Terdapat beberapa kios nelayan di sepanjang pelataran dekat tempat pemasaran hasil tangkapan. Bangunan kios nelayan ini ada yang telah permanen dan ada juga yang masih dalam kondisi non-permanen (tempat penjual kaki lima). Kios ini berfungsi setiap harinya sebagai tempat pemenuhan kebutuhan nelayan selama beraktivitas di PPI.
b) Tempat Pertemuan (workshop)
Terdapat 1 unit bangunan tempat pertemuan nelayan (workshop) dengan luas 209 m². Fasilitas ini dalam kondisi baik namun tidak terlalu difungsikan.
c) Musolla dan MCK
Saat penelitian berlangsung bangunan musolla masih dalam tahap pembangunan. Sebelumnya kegiatan keagamaan seperti sholat dilakukan di kantor administasi TPI. Terdapat 1 unit toilet umum di PPI Pontap. Hingga saat ini, toilet umum tersebut dalam kondisi baik dan masih difungsikan.
d) Kantin
Terdapat 3 buah kantin yang masih aktif di PPI Pontap. Kondisi bangunan kantin ini telah permanen dengan luas kantin 28 m². Bangunan kantin dan kios nelayan dibangun oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Palopo yang kemudian disewakan ke beberapa orang unuk digunakan sebagai tempat berusaha.
e) Pos Jaga.
Pos jaga di PPI Pontap dibagi menjadi dua bagian. Pos pertama digunakan sebagai tempat penarikan retribusi pas masuk PPI, pos ini terletak di pintu gerbang sebelum memasuki areal PPI dan pos ini dijaga oleh pegawai dinas kelautan dan perikanan. Pos kedua dengan luas 12 m² digunakan sebagai tempat pengawasan aktivitas di dalam areal PPI, pos ini terletak didalam areal PPI yang berdekatan dengan pelataran tempat pemasaran hasil tangkapan.
Pengelolaan PPI Pontap
PPI Pontap dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Palopo yang membawahi Bidang Kelautan. Salah satu tanggungjawab dari Bidang Kelautan yaitu mengelola bagian sarana dan prasarana penangkapan ikan di PPI Potap. Bagian Bidang Usaha dan Pemasaran Hasil bertanggungjawab pada pemasaran hasil tangkapan maupun hasil budidaya perikanan. Aktivitas pemasaran berlangsung di TPI dan sekitarnya untuk seluruh hasil tangkapan dan sebagian hasil budidaya perikanan. Oleh karena tidak ada pelelangan ikan maka tidak ada pula lembaga atau pengelolaan khusus yang bertanggungjawab mengelola tempat pelelangan ikan (TPI). Rancangan kerja atau agenda pengelolaan TPI digabungkan dengan rencana pengelolaan PPI Pontap secara keseluruhan.
Aktivitas di PPI
Terdapat beberapa aktivitas yang menjadi penyebab dibangunnya pelabuhan perikanan yaitu aktivitas tambat kapal, pendaratan kapal dan bongkar muat hasil tangkapan. Nelayan di PPI Pontap menambatkan kapal dan mendaratkan hasil tangkapannya di tempat yang sama. Terdapat 2 darmaga di PPI Pontap, namun pendaratan hasil tangkapan tidak hanya dilakukan di kedua darmaga tersebut namun juga di sepanjang tepi jalan di sekitar PPI Pontap juga dijadikan sebagai tempat pendaratan hasil tangkapan. Pendaratan hasil tangkapan di PPI Pontap berlangsung pada pagi hari yakni sekitar pukul 05.30 WITA dan sore hari pukul 16.00 WITA. Tidak ada petugas khusus yang mengatur aktivitas ini dan tidak ada pula antrian dalam pendaratan dan pembongkaran hasil tangkapan di PPI Pontap.
Setelah pendaratan, nelayan langsung melakukan pembongkaran hasil tangkapan saat itu juga. Pembongkaran dilakukan oleh nelayan sendiri dan terkadang dibantu oleh beberapa orang yang memang bekerja sebagai pembantu pembongkaran ikan nelayan, yang biasa disebut pa’ganjal. Pa’ ganjal ini diupah dengan beberapa ekor ikan. Pada kenyataanya pa’ganjal ini sering meresahkan nelayan karena selalu mengambil ikan nelayan tanpa izin. Hal inilah yang menjadi masalah saat pembongkaran ikan berlangsung.
Operasi penangkapan ikan nelayan di PPI Pontap hanya bersifat one day fishing atau satu hari penangkapan ikan. Oleh karena itu, tidak ada penanganan khusus terhadap hasil tangkapan di atas kapal selain dengan pemberian es. Begitupun penanganan setelah pembongkaran hasil tangkapan, tidak dilakukan penanganan khusus dengan memberikan es atau semacamnya. Hal ini dikarenakan penjualan hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Pontap setiap harinya selalu habis terjual. Apabila ada ikan yang tidak terjual barulah ditangani dengan memberikan es.
Butta Salewangang sebagai julukan Kab. Maros, merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar di bagian Selatan dan Barat serta Kab. Pangkep di bagian Utara. Luas wilayah Kab. Maros tercatat 4.559 km persegi dengan jarak ke Ibukota Provinsi sejauh 30 km. Pada tahun 2006 tercatat jumlah penduduk Kab. Maros sebanyak 297.639 jiwa, yang terdiri dari Pria sebanyak 145.341 jiwa dan Wanita sebanyak 152.298 jiwa.
PDRB Kab. Maros
Tahun
2005
2006
Jumlah
Rupiah (juta)
%
Rupiah (juta)
%
Pertanian
376,084
45.30
383,767
41.81
Pertambangan
13,844
1.67
14,154
1.54
Industri Pengolahan
192,558
23.20
198,703
21.65
Listrik dan Air Bersih
7,508
0.90
7,826
0.85
Bangunan
13,324
1.61
13,941
1.52
Perdagangan, Hotel, Restoran
69,98
8.43
72,231
7.87
Angkutan/ Komunikasi
46,871
5.65
48,681
5.30
Bank/Keu/Perum
0
0.00
52,195
5.69
Jasa
109,974
13.25
126,488
13.78
Total
830,145
917,987
Sumber Data: Kabupaten Maros Dalam Angka 2007 BPS Kabupaten Maros Profil Komoditi Daerah Kab. Maros
No
Sektor / Komoditi
Unggulan / Tidak
Deskripsi
1
Primer-Perkebunan:Kakao
Unggulan
Produksi Tahun Terakhir (2006) : 514.00 Ton
2
Primer-Perkebunan:Kopi
Unggulan
Produksi Tahun Terakhir (2006) : 59.00 Ton
3
Primer-Perkebunan:Kelapa
Unggulan
Produksi Tahun Terakhir (2006) : 343.00 Ton
4
Primer-Perkebunan:Jambu Mete
Unggulan
Produksi Tahun Terakhir (2006) : 735.00 Ton
5
Primer-Perkebunan:Cengkeh
Non Unggulan
Produksi Tahun Terakhir (2006) : 1.00 Ton
6
Primer-Perkebunan:Lada
Non Unggulan
Produksi Tahun Terakhir (2006) : 6.00 Ton
Sumber Data: Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008 Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta 2007
Ketersediaan Lahan Daerah Kab. Maros
No
Sektor/Komoditi
Luas Lahan/Potensi
1
Perkebunan: Cengkeh
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 10
2
Perkebunan: Jambu Mete
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 2,457
3
Perkebunan: Kakao
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 1,402
4
Perkebunan: Kelapa
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 1,026
5
Perkebunan: Kopi
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 396
6
Perkebunan: Lada
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 61
Sumber Data: Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008 Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta 2007
Penempatan transmigrasi di Kabupaten Pontianak telah dimulai di Sungai Durian Kecamatan Sungai Raya tahun 1955 sebanyak 224 kepala keluarga (KK) yang meliputi 1.114 jiwa. Pada tahun 1957 ditempatkan sebanyak 349 KK yang meliputi 705 jiwa di daerah Olak-Olak Kubu I Kecamatan Kubu. Pada tahun-tahun berikutnya program transmigrasi juga tersebar di beberapa kecamatan lain seperti Batu Ampar, Terentang, Sungai Kakap. Sampai dengan tahun 2001, realisasi penempatan transmigrasi umum di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya mencapai 2.141 KK yang meliputi 9.065 jiwa. Selain itu, terdapat pula pola transmigrasi swakarsa mandiri yang ditempatkan di Rasau Jaya mencapai 420 KK yang meliputi 1.797 jiwa.
Bagan merupakan salah satu jenis alat tangkap yang dioperasikan dengan menerapkan teknologi penangkapan ikan dengan bantuan cahaya lampu. Berdasarkan cara pengoperasian alat tangkap bagan dapat dikelampokkan kedalam jaring angkat (Von Brandt,1985). Bagan dalam perkembangannya telah banyak mengalami perubahan baik bentuk maupun ukuran yang dimodofikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan daerah penangkapannya. Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dikelompokkan dalam jaring angkat (lift net), namun karena menggunakan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga Light fishing (Subani dan Barus, 1989).
Bagan merupakan salah satu jaring angkat yang dioperasikan di perairan pantai pada malam hari dengan menggunakan lampu sebagai faktor penarik ikan. Menurut Subani (1972 dalam Sudirman dan Mallawa, 2004) di Indonesia bagan diperkenalkan pada awal 1950 dan sekarang telah banyak mengalami perubahan. Bagan pertama-tama digunakan oleh nelayan Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan, kemudian nelayan daerah tersebut membawanya ke mana-mana dan akhirnya hampir dikenal di seluruh Indonesia.
Dari analisis hasil dan pembahasan, diperoleh beberapa hal penting sebagai kesimpulan atas seluruh proses penelitian yang kami lakukan. Berdasarkan nilai perbandingan yang ditunjukkan oleh prosentase perubahan nilai gesekan lokal (fs) dan hambatan rasio (FR) yang diperoleh dengan menggunakan rumus statis pada kondisi tanah yang berbeda pada kelompok tiang, diketahui bahwa : (1) Semakin dekat jarak tinjau dari tiang pancang memberikan perubahan nilai gesekan lokal (fs) yang semakin besar; (2) Hambatan rasio (FR) yang terbesar berada pada jarak tinjau terjauh dari tiang pancang. Hal ini disebabkan karena semakin kecilnya pengaruh tekanan tanah lateral yang menyebabkan hambatan konus (qc) yang dihasilkan semakin kecil pula. Dimana hambatan konus (qc) merupakan faktor pembagi untuk mendapatkan hambatan rasio (FR).